Posted by: jameel82 on: January 29, 2009
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi…
betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit; tetapi…
betapa singkatnya kalau kita melihat film.
betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan); tetapi…
betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra; tetapi…
kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tetapi…
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser; tetapi…
lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid.
Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata; tetapi…
alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; tetapi…
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Al-Qur’an; tetapi…
betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran; tetapi…
betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al-Qur’an.
Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya tetapi…
betapa kita berani dan lama menundanya untuk menghadap-Nya saat kumandang adzan menggema.
Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan apa-apa, atau berbuat apa-apa.
Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; tetapi…
kalau ada e-mail yang isinya tentang perintah dan larangan Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan men-sharing-kannya, serta langsung klik pada icon DELETE.
Posted by: jameel82 on: January 29, 2009
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi… betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan! Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit; tetapi… betapa singkatnya kalau kita melihat film. betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan); tetapi… betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang. Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra; tetapi… kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tetapi… betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris. Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser; tetapi… lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid. Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata; tetapi… alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa. Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; tetapi… betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan. Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam Al-Qur’an; tetapi… betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain. Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran; tetapi… betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci Al-Qur’an. Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya tetapi… betapa kita berani dan lama menundanya untuk menghadap-Nya saat kumandang adzan menggema. Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan apa-apa, atau berbuat apa-apa. Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; tetapi… kalau ada e-mail yang isinya tentang perintah dan larangan Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan men-sharing-kannya, serta langsung klik pada icon DELETE.
Posted by: jameel82 on: January 23, 2009
Pada suatu hari, ibrahim bin Adham didatangi seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat bernama Jahdar bin Rabiah. Ia meminta basehat kepada dirinya agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata “ ya Aba ishak, aku ini seorang yg suka melakukan maksiat. Tolong berikan cara yang ampuh untuk menghentikannya” Setelah merenung sejenak, ibrahim berkata, “jika kau mampu melaksanakan 5 syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa” Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar, Jahdar berkata, “apa saja syarat-syarat itu, ya aba ishak? Syarat pertama, jika kau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rizki Alah “ ucap ibrahim Lelaki itu mengeryitkan dahinya lalu berkata : “lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rizki Allah ?” “benar”, jawab Ibrahim dgn tegas. “Bila kau telah mengetahuinya, masih pantaskah kau memakan rizki-Nya sementara ka uterus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintah – Nya ?” “Baiklah… “, jawab lelaki itu tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?” “Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah Kau tinggal di bumi- Nya”, kata Ibrahim lebih tegas lagi. Syarat kedua itu mmbuat Jahdar lebih kaget lagi . “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal dimana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah ?“ “Benar Abdallah. Karena itu pikirkanlah baik-baik. Apakah kau masih pantas memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya sementara ka uterus bermaksiat?” Tanya Ibrahim. “Kau benar Aba Ishak”, ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” Tanya dengan penasaran. “Kalau kau masih juga bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat oleh-Nya”. Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasehat macam apakah semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita ?” “Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya dan terus melakukan maksiat kepada-Nya. Pantaskah kau melakukan semua itu?”, Tanya Ibrahim kepada lelaki yang masih tampak bengong itu. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabiah tidak berkutik dan membenarkannya. “Baiklah, ya Aba ishak, lalu katakan sekarang syarat yang ke empat?” “jika malaikatul maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh”. Jahdar termenung… Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukan selama ini. Ia kemudian berkata, “tidak mungkin… tidak mungkin semua itu kulakukan”. “Ya Abdallah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah ?” Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir.. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasehat kepada lelaki itu. “Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendah menggiringmuke neraka di hari kiamat, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!” Lelaki yang ada di hadapan Ibrahim bin Adham itu tampaknya tidak sangup lagi mendengar nasehatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “cukup… cukup ya Aba ishak!. Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristgfar dan bertaubat nasuha kepada Allah”. Apakah kita telah memenuhi syarat –syarat tersebut di atas, sehingga kita bisa berbuat maksiat terhadap Allah?.
Tulisan ini diposting dari vanyhasan (komunitas pendidikan untuk semua)
Posted by: jameel82 on: January 7, 2009
Betapa Rasulullah saw mampu memikat seluruh elemen penduduk Madinah yang terdiri dari berbagai suku, agama dan latar belakang sosial yang beragam. Di awal kedatangan beliau disana. Padahal beliau belum pernah bertemu dengan mereka, pun tidak ada hubungan darah dengan mereka.
Pertama sekali yang Rasulullah saw deklarasikan bagi penduduk Madinah yang sedang menanti-nanti kedatangan beliau adalah nilai-nilai humanisme dan kepedulian yang dilandasi dengan sikap mental yang kuat.
Mari kita simak penuturan salah seorang yang sengaja menyempatkan diri bersama khalayak penduduk Madinah yang sedang menyambut Rasulullah saw. Bagaimana pengakuan tulusnya akan kepribadian Rasulullah saw. Dan taujih atau arahan Rasulullah saw yang beliau sampaikan dengan sangat puitis :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ قَال لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقِيلَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ إِلَيْهِ فَلَمَّا اسْتَثْبَتُّ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ وَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ.
Dari Abdullah bin Salam berkata: Ketika Rasulullah saw hendak datang di Madinah, manusia pada menunggu-nunggu dan saling memberi kabar: Rasulullah datang, Rasulullah datang. Aku datangi kerumunan manusia. Ketika aku pastikan bisa melihat wajah Rasulullah saw, maka aku yakin bahwa raut wajahnya bukan tipe wajah pembohong. Dan pertama kali yang beliau ucapkan adalah: “Sebarkanlah salam, berilah makan orang yang membutuhkan, sambunglah persaudaraan dan shalat malamlah ketika manusia pada tertidur. Maka anda akan masuk surga dengan selamat.” (Sunan Tirmidzi, Jilid 9, Halaman. 25)
Sebarkan Salam
Subhanallah, ajaran agama yang sangat mulia bagi kemanusiaan. Betapa tidak, Islam pertama dan utama sekali menyuruh pemeluknya untuk menyebarkan salam yang berarti kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Karena salam Islam adalah penghormatan dari Allah swt. ”Assalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh. Semoga keselamatan, kasih sayang dan keberkahan Allah selalu bersama kalian.”
Sering kita dengar cerita orang sedang bepergian di negeri orang atau tempat yang asing lainnya, mendapatkan pertolongan dari orang lain atau bertemu kenalan baru gara-gara ucapan salam. Karena salamnya orang Indonesia dengan orang Turki sama, salamnya orang Jepang dengan orang Amerika sama, demikian juga salamnya orang Arab dengan Afrika sama.
Banyak sekali rahasia dari diperintahkan menyebarkan salam ini. Adalah untuk saling kenal, cinta, kasih sayang dan mendapatkan keberkahan do’a salam itu sendiri. Bahkan menjadi prasyarat mendapat tiket masuk surga Allah swt. Inilah rahasia yang pernah diungkap sendiri oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ.
Artinya: “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian benar dalam keimanan kalian. Dan kalian tidak akan sampai meraih keimanan yang benar sampai kalian saling mencintai di antara kalian. Maukah Aku tunjukkan perkara yang apabila kalian laksanakan kalian akan saling mencintai? “Sebarkan salam di antara kalian.” (Shahih Muslim, Jilid I, Halaman 180)
Bahkan terhadap orang yang tidak kita kenal sekali pun, sebagaimana sabda Rasulullah saw. ”Berilah salam terhadap orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.”
Pelajaran menarik lain adalah bahwa kita tidak boleh pelit dalam mengucapkan salam dan menjawab salam. Justru berlomba untuk memberi doa yang terbaik dan terlengkap untuk saudara kita. Lihatlah taujih Allah swt dalam surat An Nisa’ ayat 86.
”Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” Penghormatan yang dimaksud disini ialah: dengan mengucapkan assalamu’alaikum dengan tulus ikhlas.
Wujudkan Kepedulian
Langkah berikutnya ketika sudah terbiasa dengan salam, sapa dan saling kenal – sebagai pintu masuk mengetahui kondisi saudaranya-, ketika kondisi saudaranya sedang membutuhkan bantuan, pertolongan atau baru mendapat masalah, maka anjuran Rasulullah saw adalah agar kita peduli dengannya, menolong sesuai dengan yang ia butuhkan.
Sikap peduli ini sangat penting sehingga Allah swt pun mengecam keras orang yang tidak memiliki rasa kepedulian padahal ia berkecukupan. Bahkan Allah swt mengkatagorikan mereka sebagai pendusta agama. Allah swt berfirman dalam sura Al Ma’un : 1-3.
”Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”
Galang Silaturahim
Sungguh, agung agama Islam ini. Setelah menganjurkan ummat Islam untuk saling mendekat dan saling kenal, mengalakkan sikap peduli terhadap sesama. Ternyata Islam juga mengunci kuat pintu-pintu konflik dan menutup rapat-rapat potensi permusuhan. Yaitu dengan anjuran menyambung persaudaraan, silaturahim.
Sesama muslim adalah saudara, bahkan persaudaraan itu kadang lebih kuat dibanding dengan persaudaraan darah sekalipun. Inilah yang ditegaskan Allah swt dalam firman-Nya:
”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” QS. Al Hujurat 10.
Orang-orang yang saling bercinta karena Allah swt, saling menyambung persaudaraan fillah, akan dibanggakan Allah swt di hari kiamat kelak, sehingga para Anbiya’ dan Syuhada’ sekalipun cemburu dengan mereka. Rasulullah saw bersabda:
”Orang-orang yang saling mencintai karena kebesaran-Ku, pada hari kiamat kelak berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, yang menyebabkan para Nabi dan Syuhada cemburu akan kedudukan mereka.”
Sikap lapang dada, dewasa dan menghormati perbedaan pendapat atau golongan di antara umat Islam bisa menjadi katup pengikat kesatuan dan persatuan umat Islam.
Sisi lain Islam sangat mengecam permusuhan, persengketaan melebihi tiga hari, apalagi permusuhan abadi. Rasulullah saw bersabda:
”Barangsiapa yang bertengkar dengan saudaranya melebihi tiga hari, maka Aku tidak butuh ketaatan dan peribadatan keduanya, sampai keduanya rujuk kembali dan yang pertama rujuk adalah yang paling baik”.
Tradisi silaturahim tidak hanya dilakukan ketika lebaran atau bulan Syawal saja, apalagi ada embel-embel kepentingan politis. Namun anjuran silaturahim adalah setiap saat sesuai kadar yang dibutuhkan. Menyambung persaudaraan tidak hanya dengan sesama muslim saja, namun juga dengan semua pemeluk agama lain. Rasulullah swt menjadi bukti konkrit dalam hal ini. Beliau meskipun setiap hari dicaci maki oleh lawan politiknya, diludahi oleh orang yang beda agama, namun beliau tetap berbuat manusiawi terhadap mereka. Justru dengan sikap itulah lawan-lawannya menjadi simpati dan masuk Islam.
Hidupkan Shalat Malam
“Dan dari sebagian malam itu, maka bertahajudlah kallian sebagai ibadah wajib bagimu, mudah-mudahan Allah menempatkanmu pada tempat yang terpuji”
Inilah janji Allah tentang keutamaan shalat malam. Bahwasanya kita akan mendapatkan kemuliaan di sisiNya. Karena bagaimana tidak. Saat itu adalah saat-saat mustajabah. Saat ketika Allah bukakan pintu rahmat, ampunan dan ijabahNya. Siapapun yang tengadahkan tangan dengan permohonan Allah akan segera jawab keinginan setiap hambaNya.
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana refleksi ritul kita terhadap keharmonisan hubungan dengan sesama. Saat-saat saudara-saudara kita di Palestine, di Irak, di Afganistan, di Chechnya terlebih lagi di sekeliling kita. Apa yang telah kita lakukan untuk sekedar sunggingkan senyum bagi anak-anak yatim yang takut menatap masa depan?
DONASI BISA DISALURKAN MELALUI IKATAN REMAJA MASJID AL-HUDA BOJONGNANGOH UTAMA CIJEUNGJING CIAMIS ATAU MELALUI BRI UNIT CIJANTUNG REK. 33214406 ATAS NAMA N.SUSITA.
BANTUAN ANDA AKAN KAMI SALURKAN UNTUK ANAK-ANAK YATIM, FAKIR MISKIN DAN JANDA-JANDA TUA.
INFORMASI LEBIH LANJUT BISA HUBUNGI NURJAMIL
HP. 081807758767
Posted by: jameel82 on: December 31, 2008




Satu Muharram, meski tidak termasuk orang yang mengistimewakan hari ini apalagi melakukan amalan-amalan khusus di hari tersebut, namun saya sering geli ketika dengar di kajian-kajian yang bertepatan sama hari itu, beberapa pembicara pengajian, tidak satu atau dua yang sering menjadikan tema momen hijrah dan ma’na hijrah Rasulullah beserta kaum muslimin ke Madinah di kajian-kajian muharramnya. Padahal keduanya (satu muharram dan moment hijrah ke Madinah) tidak ada kaitannya.
Memang, Islam mengenal tahun hijriyah, dan hijriyah ini dinisbatkan pada hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Akan tetapi, tahun hijriyah baru ditetapkan pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Catat! Masa Umar bin Khattab ….
Saat itu, Umar radhiallahu’anhu, kesulitan menentukan waktu dalam urusan pencatatan yang berkaitan dengan pemerintahan. Lalu, diputuskan untuk menetapkan tahun, agar mempermudah. Sebelumnya ada beberapa usulan untuk menentukan tahun ke 1 (satu). Ada yang mengusulkan agar tahun ke satu dinisbatkan pada tahun kelahiran Rasulullah sholallohu’alaihiwassalam, namun ada juga yang mengusulkan agar tahun ke satu (Hijriyah) ditetapkan pada tahun hijrahnya kaum muslimin ke Madinah. Akhirnya diputuskan tahun hijrahnya kaum muslimin sebagai tahun ke satu, makanya tahunnya pun disebut tahun hijriyah, dari kata hijrah.
Dari sini sudah bisa disimpulkan bahwa pada masa Rasulullah hidup, belum ada yang namanya tahun hijriyah. Bukti lain, kita sering menyaksikan ada kerancuan atau perbedaan tahun pada sejarah kehidupan Rasulullah. Ada yang tahu, Tahun berapa Rasulullah lahir? Kita lebih sering tahu bahwa Rasulullah sholallohu’alaihiwassalam lahir di tahun Gajah, karena pada masa itu Ka’bah sedang diserang oleh pasukan bergajah, dan bukan pada tahun 1, 2, ato 3 Hijriyah. Jelas,tahun 1 nya aja baru ada setelah hijrahnya kaum muslimin ke Madinah…, yaitu pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab.
Kalo 1 Muharram?
Sedangkan bulan-bulan islam (qomariyah) yang kita kenal, dari bulan muharram sampai bulan dzulhijjah, itu sudah ada jauh sebelum Rasulullah sholallohu’alaihi wassalam lahir. Jadi semasa Rasulullah hidup, baru dikenal bulan-bulan islam, namun belum dikenal tahun hijriyah. Karena tahun hijriyah baru ditetapkan setelah kepemimpinan Umar bin Khattab. Sehingga bisa kita simpulkan bahwa hijrahnya kaum muslimin tidak terjadi pada bulan muharram.
Akan tetapi tidak keliru jika pada saat-saat gemerlap pergantian tahun hijriyyah yakni 1 Muharram 1430 H kita melukiskan penggalan kisah tentang hirahnya rasulullah saw bersama para sahabanya yang setia sebagai kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia sebagai tonggak kebangkitan umat dan wacana untuk memunculkan semangat jihad di jalan Allah.
Yatsrib atau Madinah sudah pasti menjadi masa depan Muhammad dan pengikutnya. Puluhan muslimin telah menyelinap pergi ke sana. Kaum Qurais tak terlalu peduli. Perhatian mereka pada Muhammad yang masih di Mekah yang tak akan mereka biarkan lolos. Padahal Muhammad telah siap untuk pergi. Abu Bakar telah menyiapkan dua unta baginya dan bagi Muhammad. Unta itu dipelihara Abdullah bin Uraiqiz.
Sampai pada harinya, perintah Allah untuk hijrah pun turun. Muhammad memberi tahu Abu Bakar. Para pemuda Qurais juga semakin ketat memata-matai rumah Muhammad. Mereka sesekali mengintip ke dalam rumah, melihat Muhammad berbaring di tempat tidurnya. Namun Muhammad meminta Ali mengenakan mantel hijaunya dari Hadramaut serta tidur di dipannya. Kaum Qurais tenang. Mereka pikir Muhammad masih tidur. Ketika esok harinya mendobrak pintu rumah Rasul, mereka hanya mendapati Ali yang mengaku tak tahu menahu tentang keberadaan Muhammad.
Malam itu, Muhammad telah menyelinap dari jalan belakang. Bersama Abu Bakar, ia berjalan mengendap dalam gelap, menuju sebuah gua di bukit Tsur. Sebuah pilihan cerdik. Kaum Qurais tentu menduga Muhammad menuju Yatsrib di utara Mekah. Muhammad malah melangkah ke selatan. Kejadian ini juga memperlihatkan bahwa Muhammad tetap menggunakan nalar yang wajar sebagai manusia. Jika mau, ia dapat meminta perlindungan Allah berwujud kesaktian seperti yang dikejar-kejar banyak manusia sekarang. Tapi tidak, Muhammad menunjukkan bahwa Islam bukanlah agama untuk kepentingan semacam itu.
Muhammad dan Abu Bakar hanya menjalankan siasat biasa. Dalam persembunyiannya, mereka tetap memasang telinga melalui Abdullah, anak Abu Bakar, yang tetap tinggal di Mekah. Setiap malam, Abdullah menemui mereka di gua melaporkan perkembangan suasana serta mengirim makanan yang disiapkan Aisyah dan saudaranya, Asma. Setiap pagi, pembantu Abu Bakar -Amir bin Fuhaira-menggembala kambing menghapus jejak itu.
Tiga malam mereka bersembunyi di gua itu. Satu riwayat menyebut sejumlah pemuda Qurais telah mencapai bibir gua. Abu Bakar gemetar meringkuk di sisi Muhammad. Saat itu, Muhammad berbisik. La tahzan, innallaaha ma’ana (Jangan sedih, Allah bersama kita). Rasul juga menghibur dengan kata-kata, ‘Abu Bakar, kalau kau menduga kita hanya berdua, Allah-lah yang ketiga’. Orang-orang Qurais itu lalu pergi. Konon mereka melihat sarang laba-laba serta burung merpati mengerami telur di mulut gua. Tak mungkin Muhammad bersembunyi di situ.
Setelah aman, Abdullah bin Uraiqiz membawa keluar mereka. Tiga unta beriringan ke Barat, berbekal makanan yang diikat dengan sobekan sabuk Asma. Abu Bakar disebut membawa seluruh uang simpanannya sebesar 5 ribu dirham. Mereka berjalan berputar menuju arah Tihama, dekat Laut Merah, melalui jalur yang paling jarang dilalui manusia. Baru kemudian mereka berbelok ke utara, ke Yatsrib, menapaki terik gurun. Siang-malam mereka terus berjalan.
Kaum Qurais membuat sayembara dengan hadiah 100 unta bagi yang dapat menangkap Muhammad. Suraqa bin Malik tergiur iming-iming itu. Ketika mendengar info ada tiga orang berunta beriringan, ia mengelabui kawan-kawannya. “O.. itu adalah si anu,” begitu kira-kira ucapan Suraqa. Namun ia kemudian memacu kudanya sendirian mengejar Muhammad. Sedemikian menggebu Suraqa, sehingga kudanya tersungkur. Sekali lagi, ia tersungkur setelah dekat dengan Muhammad. Suraqa lalu menyerah karena menganggap dirinya tengah sial.
Dua pekan kemudian, Muhammad tiba di Quba -desa perkebunan kurma di luar kota Yatsrib. Ia tinggal di sana selama empat hari dan membangun masjid sederhana. Di sana pula Muhammad bertemu kembali dengan Ali yang berjalan kaki ke Yatsrib. Mereka kemudian berjalan bersama menuju kota, dan disambut sangat meriah oleh warga Yatsrib dengan bacaan salawat. Orang-orang Arab -baik yang Islam maupun penyembah berhala-serta orang-orang Yahudi tumpah ruah untuk melihat sosok Muhammad yang banyak diperbincangkan.
Orang-orang berebut menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal Rasul. Tapi Muhammad menyebut bahwa ia akan tinggal di mana untanya berhenti sendiri. Sampai ke sebuah tempat penjemuran korma, unta itu berlutut. Muhammad menanyatakn tempat itu milik siapa. Ma’adh bin Afra menjawab, rumah itu milik Sahal dan Suhail -dua orang yatim dari Banu Najjar.
Setelah dibeli, rumah itu pun dibangun menjadi masjid. Hanya sebagian dari ruangan masjid itu yang beratap. Di sanalah orang-orang miskin –dari berbagai tempat yang datang menemui Muhammad untuk memeluk Islam– kemudian ditampung. Muhammad membangun rumah kecil bagi keluarganya di sisi masjid itu. Semasa pembangunan rumah itu, Rasul tinggal di rumah keluarga Abu Ayyub Khalid bin Zaid. Sekarang masjid yang dibangun Rasulullah itu menjadi masjid Nabawi yang teduh di Madinah. Sedangkan rumah tinggalnya menjadi tempat makam Rasul yang kini berada di dalam masjid Nabawi.
Pada usia 53 tahun -setelah 13 tahun masa kerasulannya serta membangun pondasi keislaman-Muhammad membuat langkah besar itu: hijrah. Langkah berbahaya namun mengantarkannya menjadi pemimpin utuh. Pemimpin keagamaan, kemasyarakatan juga politik. Peristiwa pada tahun 623 Masehi itu sekaligus mengajarkan keharusan umat Islam untuk berani menempuh langkah besar untuk mencari lingkungan atau lahan baru yang memungkinkan benih kebenaran dan kebajikan tumbuh lebih subur.
Bagaimana dengan kita?sudahkah kita berhijrah menjadi manusia yang lebih baik lagi?apakah keberadaan kita sudah cukup dirasakan kemanfaatannya untuk sesama. Maka moment tahun baru islam ini hendaknya menjadi saat ketika kita bermuhasabah tentang kiprah kita. Hubungan kita dengan Allah sebaik mungkin kita jaga agar tetap harmonis, pun demikian dengan ikatan kasih sayang kita dengan keluarga, terlebih kedua orang tua, kaum dhuafa, anak yatim, dan siapapun yang berharap kasihsayang menjadi bagian dari prioritas hijrah kita memberikan yang terbaik bagi mereka.
Posted by: jameel82 on: December 18, 2008
UNTUK SAUDARAKU DI JAKARTA……



Tanpa terasa butir-butir bening itu kembali menetes saat kucoba tuangkan titipan rasa terimakasih dari saudara-saudaraku di Ciamis. Terimakasih terindah untuk para pecinta Allah. Rasa syukur terdalam yang semoga keberkahannya terlimpah atas hamba-hamba yang telah dikaruniakan harta berlimpah dan hati yang hanya merasa nikmat ketika berbagi.
Dengan segenap kebahagiaan kami atas nama warga Dusun Bojongnangoh dan Dusun Cihideung Desa Utama Kecamatan Cijeungjing Kabupaten Ciamis mengucapkan rasa terimakasih terdalam untuk yang terhormat:
Bapak Muhammad Isro (BAPPENAS)
Ibu Luciana (Villa Cendana Tangerang)
Ibu Dini herdini( Rempoa Indah Tangerang)
Ibu Widayati (Gardenia Estate Tangerang )
Ibu Wiyono (Jati Murni Bekasi)
Bapak Mukhsin Syahwani (PT. Musa Mandiri Jakarta)
Ibu Murdiyati/Bu Awal (Gardenia Estate Tangerang)
Atas segala keikhlasan dan kepercayaannya untuk menyalurkan hewan qurbannya di daerah kami melalui Ikatan Remaja Masjid Al-Muhyi Ds. Utama.
Alhamdulillah daging kurban yang terdiri dari 110 kg daging sapi dan 40 kg daging kambing dapat dibagikan kepada 200 kepala keluarga yang tersebar dalam empat RT. yakni RT. 17, 18, 19 dan 20.
Bening hati kami panjatkan sebait do’a “Semoga segala amal baik Bapak/Ibu Allah catat sebagai amal shaleh yang akan mampu membuka pintu keridhaan Allah swt. Saudaraku….. Jazakumullahu khairan ahsanal jaza.






(Pemotongan dan pengurusan hewan qurban, sapi dengan berat kotor 220 kg dan berat daging bersih 110 kg)

Pengurusan hewan qurban kambing dengan berat daging 20 kg
Sekretariat: Jl. Kertaraharja No. 67 Dusun Bojongnangoh RT. 18 RW. 06 Ds. Utama Cijeungjing Ciamis Kode Pos 46271 Telp. 081807758767
email: jameel_82@yahoo.com
Contact person: 1. Nurjamil Hp. 081 807 758 767
1. Siti Nurhayati Hp. 0813 20 24 89 84
Posted by: jameel82 on: December 16, 2008






“Allahu akbar walillahi al-Hamd” sayup-sayup terdengar gemuruh takbir, tahlil dan tahmid dari suara-suara parau anak-anak santri yang usianya hampir sama, begitu belia. Mereka tersenyum gembira dengan datangnya malam iedul adha. Betul mereka jauh dari orang tua, memang benar mereka tidak bisa berkumpul dengan keluarga. Tapi siapa sangka ternyata percikan kegembiraan terpancar sangat jelas di wajah-wajah lugu mereka.
Itulah pemandangan yang kami (team redaksi kiprah) temukan di Pondok Pesantren Amanah Jl. Sambong Jaya Tasik Malaya. Hari itu, Minggu 07 Desember 2008, gerimis sudah mulai warnai hari sejak pagi hingga malam menjelang. Adalah pesantren Al-Amanah tempat di mana para santri mulai usia SLTP sampai dengan SMU yang berasal dari berbagai daerah yang menjadi saksi penyerahan 150 buah buku paket pelajaran untuk tingkat SLTP kelas 1,2 dan 3 dari Yayasan Baiturrahman Jaya Ancol.
Acara penyerahan bantuan sejumlah buku tersebut langsung dilakukan oleh ketua Yayasan Baiturrahman, yakni H. Maman Karyaman yang diterima langsung oleh kepala sekolah SLTP Muhammadiyyah Amanah Tasikmalaya, H. Dede.
Dalam sambutannya kepala sekolah yang cukup ramah ini mengatakan “Kami sangat berterimakasih dengan adanya bantuan ini. Buku-buku ini akan menjadi bantuan yang sangat berharga bagi para santri di Pesantren Amanah. Mudah-mudahan Yayasan Baiturrahman tetap komitmen dalam pemberdayaan pendidikan”.
Posted by: jameel82 on: December 4, 2008
“Wah..Yayasan Baiturrahman itu benar-benar hebat, mampu mensinergikan antara wilayah religi dengan teknologi” itulah kesan yang disampaikan oleh Mr. Nafis yang biasa disapa dengan sebutan “Mas Bejo” instruktur Blog sharing yang juga Master Grammar di (Kampung Inggris) Pare Jawa Timur dari Komunitas Pendidikan Untuk Semua cabang Jakarta di sela-sela perbincangan dengan team redaksi Kiprah YBJA.
Minggu, 30 Nopember 2008 menjadi waktu yang sangat bersejarah sekaligus mengasikkan bagi para peserta Blog Tarining and Share yang diselenggarakan oleh Lembaga Perpustakaan Baiturrahman bekerjasama dengan Komunitas Pendidikan Untuk Semua. Kegiatan ini merupakan satu langkah maju yang sedang dirintis oleh Yayasan Baiturrahman. Tema pemberdayaan dalam sisi pendidikan, ekonomi dan kesehatan yang menjadi target utama kiprah Baiturrahman semakin hari semakin berkembang dengan jaringan yang lebih luas. Sehingga formulasi kegiatan yang dilaksanakan menjadi beragam dan inovatif.
Blog training and share ini diikuti oleh 20 peserta dari berbagai komunitas, yakni Laziswa, Lembaga Publikasi dan kepustakaan, Komunitas pendidikan untuk semua, perwakilan OSIS dan ROHIS se Jakarta Utara, PP Muhammadiyyah dan Panca Bela Baiturrahman. Pelatihan ini tentusaja merupakan awal dari gerak langkah YBJA menuju era teknologi informasi.
“Pengelolaan dana zakat yang merupakan dana ummat yang notabene adalah karyawan PT. Pembangunan Jaya Ancol Tbk memerlukan sistem publikasi yang canggih dan transparan. Maka pelatihan blog ini menjadi penting untuk dilaksanakan berkaitan dengan penyebaran informasi kegiatan yang dilaksanakan oleh YBJA, sehingga aksesnya lebih cepat dan menjangkau wilayah yang lebih luas. Ini satu bentuk pertanggungjawaban terhadap muzakki” begitu ujar Maman Karyaman yang juga Ketua Yayasan Baiturrahman dalam bincang-bincang dengan tim redaksi Kiprah menjelang pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan pelatihan ini tentusaja tidak hanya sebatas pertemuan sementara, akan tetapi selanjutnya menjadi satu jejaring bagi YBJA khususnya Lembaga Publikasi dan Kepustakaan dalam mengembangkan program kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan pendidikan. Salahsatu rencana yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat adalah kerjasama dengan komunitas 1001 buku. Lembaga yang dimotori oleh para relawan dari berbagai disiplin ilmu yang konsern dalam perbaikan sistem pendidikan di Indonesia, di antaranya distribusi buku-buku ke seluruh taman bacaan yang ada di seluruh pelosok Indonesia. Semoga kiprah ini menjadi bagian dari bangkitnya semangat belajar bagi “anak negeri” ini. Maka yakinlah zakat, infaq dan shadaqah anda bermanfaat untuk “mereka”.
Posted by: jameel82 on: December 2, 2008
Shadaqah dilihat dari pengertian secara bahasa, berasal darai akar kata Shidq artinya benar. Al-Qadhi Abu Bakar bin Arabi menagrtikan shidq (benar) ini dengan penegertian bahwa hanya orang yang benar dan sejalan antara hati dan ucapannya yang gemar bershadaqah. Artinya secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa orang yang enggan bershadaqah (kikir) masih harus dipertanyakan kadar keimanannya. Kenapa? Karena pada dasarnya iman berarti as-Shidq (membenarkan). Membenarkan akan apa? Membenarkan terhadap seluruh perintah Allah dan rasulNya. Shadaqah adalah salah satu perintah agama yang membuktikan tingkat kepercayaan akan kebenaran ajaran islam. Maka ketika orang enggan bershadaqah, secara tidak langsung ia masih ragu dengan ajaran agamanya sendiri.
Lebih lanjut, ternyata shadaqah merupakan refleksi dari peneladanan tentang kemaha murahan Allah dan keindahan akhlak rasulullah, bahkan sebagai bukti nyata kesalehannya dalam berinteraksi dengan sesamanya. Maka bagaimana keadaan orang yang enggan bershadaqah? Berikut penggalan kisah yang dikutip dari www.oaseislam.com tentang kisah orang yang mennjadikan shadaqah sebagai kebutuhannya.
Malam itu bulan bersinar terang di langit. Bintang bintang bertaburan. Subhanallah, alangkah indahnya. Seorang lelaki bernama Karim keluar dari rumahnya. Dulu, Karim dikenal gemar melakukan perbuatan yang dilarang agama. Namun, kini dia telah insaf dan bertobat. Sekarang, dia rajin shalat berjamaah di masjid. Dia juga tidak merasa malu untuk ikut mengaji dan belajar membaca Al Quran, bersama anak anak yang lebih muda usia nya.
Malam itu, setelah mendengar penjelasan dari imam masjid tentang keutamaan shadaqah atau sedekah, hati Karim tergerak. Imam masjid menjelaskan, jika seseorang memiliki uang seribu dirham dan ia menyedekahkan tiga puluh dirham, maka yang tiga puluh dirham itulah yang akan kekal dan dapat dinikmati di akhirat. Sedangkan yang tujuh ratus dirham tidak membuahkan apa apa.
Bahkan, uang tiga puluh dirham yang disedekahkan, akan dilipatgandakan oleh Allah sebanyak tujuh ratus kali. Sedekah juga membuat harta dan rezeki yang ada menjadi penuh berkah.
Selama ini, Karim dikenal kaya dan kikir. Namun, sejak insaf dan tobat, dia telah berniat akan mengorbankan segala yang dimilikinya untuk memperoleh ridha Allah Swt. Sebagian hartanya telah dia rencanakan untuk disedekahkan dan diinfakkan di jalan Allah Swt.
Dia mengarahkan langkahnya menuju ke suatu rumah. Dia telah menyiapkan kantong berisi seratus dirham untuk disedekahkan. Begitu sampai di rumah yang ditujunya, dia mengetuk pintu. Seorang lelaki berkumis tebal muncul dari dalam rumah. Setelah mengucapkan salam, dia memberikan kantong itu pada pemilik rumah, lalu mohon pamit. Kejadian itu ternyata diketahui oleh beberapa orang penduduk daerah itu.
Pagi harinya, orang orang di pasar ramai membicarakan apa yang dilakukan Karim tadi malam.
Dua orang yang melihat Karim bersedekah berkata dengan nada mengejek, “Dasar orang tidak tahu agama, sedekah saja keliru, masak sedekah kok kepada seorang pencuri. Kalau mau sedekah itu, ya harusnya kepada orang yang baik baik!”
Obrolan orang di pasar itu sampai juga ke telinga Karim, ia hanya berkata dalam hati, “Alhamdullilah, telah bersedekah kepada pencuri!
Hari berikutnya, ketika malam tiba, dia kembali keluar rumah. Dia ingin kernbali bersedekah. Sama seperti malam sebelumnya, dia menyiapkan uang seratus dirham. Kali ini, dia memilih sebuah rumah di pinggir kota. Dia mengetuk pintu rumah itu. Seorang wanita membukakan pintu. Dia langsung menyerahkan sedekahnya pada perempuan itu lalu pulang.
Pagi harinya, pasar kembali ribut. Ternyata, ada orang yang mengetahui perbuatannya tadi malam. Orang itu bercerita sinis, “Memang, Karim itu tidak jelas. Rajin pergi ke mesjid, tetapi memberi sedekah saja masih salah. Kemarin malam, dia memberi sedekah kepada seorang pencuri. Lha, tadi malam, dia memberi sedekah kepada seorang pelacur!”
Perbincangan orang di pasar itu sampai juga ke telinganya. Karim hanya berkata lirih, “Alhamdulillah, telah bersedekah kepada seorang pelacur!”
Malam harinya, Karim kembali keluar rumah untuk sedekah. Dia memilih rumah yang ada di dekat pasar. Setelah mengantarkan sedekahnya, dia pulang. Kali ini Karim berharap, dia tidak keliru memberikan sedekahnya.
Pagi harinya, pasar lebih ribut dari sebelumnya. Seorang penjual daging berkata, “Nggak tahulah! Karim itu memang aneh. Mau sedekah saja kok kepada orang kaya. Padahal, orang yang miskin dan memerlukan uang untuk makan, masih banyak dan ada di mana mana!” Ternyata, rumah yang didatangi Karim dan diberi sedekah tadi malam adalah rumah orang kaya. Mendengar berita dan omongan yang ada di pasar tentang kekeliruannya memberikan sedekah ia berkata, “Alhamdulillah, telah sedekah kepada pencuri, pelacur, dan orang kaya!”
Malam harinya, ia shalat tahajud, lalu tidur. Dalam tidurnya dia bermimpi didatangi oleh seseorang yang memberi kabar kepadanya, “Sedekahmu kepada pencuri, membuat pencuri itu insaf, sehingga dia kini tidak mencuri lagi. Sedekahmu kepada pelacur, membuat wanita itu tobat dan tidak berzinah lagi, dan sedekahmu kepada orang kaya, menjadikan orang kaya tersebut sadar dan merasa malu. Kini, orang kaya yang pelit itu mau mengeluarkan zakat dan infak. Sedekahmu yang ikhlas itu diridhoi Allah Swt.”
Setelah itu Karim semakin khusyuk beribadah dan banyak mengerjakan kebajikan. Dia sadar bahwa yang paling penting dalam ibadah adalah niat karena Allah. Bukan sekadar mengikuti perkataan orang banyak. Hanya Allah-lah yang berhak menilai, diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang.
Sungguh luar biasa jika kita mampu menjadikan shadaqah sebagai karakter bahkan kebutuhan dan mudah-mudahan menadi budaya. Sehigga dalam perjalanan hidup ini senantiasa ada keinginan untuk menjadi bagian dari kebahagiaan orang lain. Akan tetapi kadang timbul pertanyaan, bagaimana ketika kita dalam posisi sempit yang sepertinya sedikit kemungkinan untuk bershadaqah dengan materi. Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya pengertian shadaqah tidah hanya terbatas pada pemberian sejumlah uang, akan tetapi begutu luas seluas rahmat kasih sayang Allah. Berikut beberapa keterangan tentang aplikasi shadaqah dalam berbagai cara;
1. Dengan tasbih, tahlil dan tahmid
Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw. berkata, “Bahwasanya diciptakan dari setiap anak cucu Adam tiga ratus enam puluh persendian. Maka barang siapa yang bertakbir, bertahmid, bertasbih, beristighfar, menyingkirkan batu, duri atau tulang dari jalan, amar ma’ruf nahi mungkar, maka akan dihitung sejumlah tiga ratus enam puluh persendian. Dan ia sedang berjalan pada hari itu, sedangkan ia dibebaskan dirinya dari api neraka.” (HR. Muslim)
2. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [QS. Ali Imran (3): 110]
3. Hubungan Intim Suami Istri
“Apakah salah seorang diantara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan shadaqah?” Kemudian dengan bijak Rasulullah saw. menjawab, “Apa pendapatmu jika ia melampiaskannya pada tempat yang haram, apakah dia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskannya pada yang halal, ia akan mendapat pahala.” Di sinilah para sahabat baru menyadari bahwa makna shadaqah sangatlah luas. Bahwa segala bentuk aktivitas yang dilakukan seorang insan, dan diniatkan ikhlas karena Allah, serta tidak melanggar syariah-Nya, maka itu akan terhitung sebagai shadaqah.
4. Bekerja dan memberi nafkah pada sanak keluarganya
Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits: Dari Al-Miqdan bin Ma’dikarib Al-Zubaidi ra, dari Rasulullah saw. berkata, “Tidaklah ada satu pekerjaan yang paling mulia yang dilakukan oleh seseorang daripada pekerjaan yang dilakukan dari tangannya sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahkan hartanya terhadap diri, keluarga, anak dan pembantunya melainkan akan menjadi shadaqah.” (HR. Ibnu Majah)
5. Membantu urusan orang lain
Dari Abdillah bin Qais bin Salim Al-Madani, dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, “Setiap muslim harus bershadaqah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana pendapatmu, wahai Rasulullah, jika ia tidak mendapatkan (harta yang dapat disedekahkan)?” Rasulullah saw. bersabda, “Bekerja dengan tangannya sendiri kemudian ia memanfaatkannya untuk dirinya dan bersedekah.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau bersabda, “Menolong orang yang membutuhkan lagi teranaiaya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Mengajak pada yang ma’ruf atau kebaikan.” Salah seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika ia tidak mampu, wahai Rasulullah saw.?” Beliau menjawab, “Menahan diri dari perbuatan buruk, itu merupakan shadaqah.” (HR. Muslim)
6. Mengishlah dua orang yang berselisih
Dalam sebuah hadits digambarkan oleh Rasulullah saw.: Dari Abu Hurairah r.a. berkata, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Setiap ruas-ruas persendian setiap insan adalah shadaqah. Setiap hari di mana matahari terbit adalah shadaqah, mengishlah di antara manusia (yang berselisih adalah shadaqah).” (HR. Bukhari)
7. Menjenguk orang sakit
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Ubaidah bin Jarrah ra berkata, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menginfakkan kelebihan hartanya di jalan Allah swt., maka Allah akan melipatgandakannya dengan tujuh ratus (kali lipat). Dan barangsiapa yang berinfak untuk dirinya dan keluarganya, atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri, maka mendapatkan kebaikan dan kebaikan dengan sepuluh kali lipatnya. Puasa itu tameng selama ia tidak merusaknya. Dan barangsiapa yang Allah uji dengan satu ujian pada fisiknya, maka itu akan menjadi penggugur (dosa-dosanya).” (HR. Ahmad)
8. Berwajah manis atau memberikan senyuman
Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian menganggap remeh satu kebaikan pun. Jika ia tidak mendapatkannya, maka hendaklah ia ketika menemui saudaranya, ia menemuinya dengan wajah ramah, dan jika engkau membeli daging, atau memasak dengan periuk/kuali, maka perbanyaklah kuahnya dan berikanlah pada tetanggamu dari padanya.” (HR. Turmudzi)
Oleh Nurjamil (Mahasiswa PSTTI Ekonomi dan Keuangan Syari’ah Universitas Indonesia)
Posted by: jameel82 on: November 27, 2008
“ Kita akan tetap pada konsep pemberdayaan. Maka kretaifitas sosial, ekonomi yang dikombinasikan dengan wawasan religi manjadi penting untuk dikembangkan. Sehingga pada perjalanan kiprahnya, Yayasan Baiturrahman mampu menjadi bagian dalam menciptakan masayarakat yang bertaqwa, sejahtera dan mandiri” Ujar Maman Karyaman, ketua umum Yayasan Baiturrahman Jaya Ancol di sela-sela bincang-bincangnya dengan perwakilan Forum Komunikasi Majlis Taklim se-Jakata Utara. Jum’at, 21 Nopember 2008 di gedung Perpustakaan Baiturrahman.
Gagasan-gagasan Maman karyaman yang oleh sebagian orang dibilang sebagai “ideu-ideu gila”nya ternyata diamini oleh lembaga-lembaga yang merupakan gerbong operasional pelaksana program Yayasan Baiturrahman.
Penjabaran ideu-ideu Maman Karyaman ini salahsatunya diaplikasikan melalui program pembinaan yang dialamatkan kepada komunitas PSK Plea-pela yang berada di wilayah Tanjung Priok Jakarta Utara. Program ini menjadi agenda besar Yayasan Baiturrahman yang secara langsung ditangani oleh kelompok pengakajian islam karyawati PT. Pembangunan Jaya Ancol yang bernama Mata UMMI YBJA.
Rabu, 26 Nopember 2008 Mata UMMI yang diwakili oleh Wina Kartika Purwanti, Irma Indriyani Maha, Poerwati, Weni dan Ani Handayani bersinergi dengan BMT TS (Taman Surga ) YBJA melakukan kunjungan ke komunitas PSK Pela-pela yang beberapa saat yang lalu menjadi korban penggusuran lahan yang notabene adalah milik PJKA. Yakni, pengaktifan kembali jalur kreta dari Station Kota ke Tanjung Priok yang hampir 12 tahun berhenti beroperasi.
Kunjungan tim Baiturrahman ini tentusaja bukan hanya sekedar kegiatan social activity dengan acara bagi-bagi sembako, akan tetapi lebih dari itu YBJA merasa bertanggungjawab untuk mengelola dana zakat dengan format social responsibility. Artinya pembinaan PSK, pemulung, anak jalanan dan komunitas kaum miskin yang setiap hari semakin melengkapi penuh sesaknya kota Jakarta_ yang oleh Erie Sudewo dikatakan sebagai korban kemiskinan struktural, atau lebih vulgar kita katakan sebagai korban kebijakan pemerintah, memerlukan pola peenanganan yang serius plus sembangan pemikiran dan tenaga yang betul-betul extra. Kenapa? Karena selain korban kebijakan pemerintah, ternyata hampir sebagian besar bangsa ini seakan betah dengan gelar orang miskin. Bahkan Erie mengibaratkan bangsa ini sebagai bangsa yang memposisikan kemiskinan sebagai budaya. Maka perubahan paradigma berfikir untuk hidup merdeka secara hakiki menjadi tema yang terlalu penting untuk dilewatkan.
Maka pola yang diterapkan oleh YBJA adalah format pemberdayaan dengan diadakan pelatihan-pelatiahn keterampilan dan kewirausahaan berikut bantuan permodalan dengan konsep qarlul hasan (pinjaman tanpa bunga) sekaligus pendampingan yang berkesinambungan. Diharapkan dengan pola ini, maka kemiskinan yang menjadi akar permasalahan semua hal yang berkaitan dengan kaum mustadh’afin akan dapat segera menemukan titik cerah. Paling tidak, ada semangat untuk hidup layak bahkan kalau perlu mempunyai keinginan untuk menjadi muzakki. Semoga dengan tim yang semakin solid dan tentusaja senantiasa meningkatkan kualitas diri, semua mimpi YBJA untuk menciptakan negeri yang gemah ripah repeh rapih bukan hanya sekedar harapan yang mengawang-awang. (red)
Komentar terakhir